Wednesday, February 21, 2007

SERIAL POLLY ( judul ke VI )

POLLY DAN BETSY BERTUKAR TEMPAT
Sepulang sekolah, Polly bertandang ke rumah Betsy. Rumah Betsy besar dan indah berbentuk jamur yang tinggi. Polly senang sekali bermain di rumah Betsy. Apa lagi di dalam kamar Betsy yang luas dan hangat, tidak seperti kamarnya yang sempit, walau juga hangatnya sama seperti kamar Betsy.

”Asyik sekali di sini ya,” kata Polly ketika dilihatnya rumah Betsy tampak sepi. Yah....ayah dan ibu Betsy sedang bekerja, jadi kalau siang hari Betsy tinggal sendirian di rumah.

”Enakan di rumah kamu dong, Polly,” ujar Betsy, ”ada ibumu, jadi kamu tak akan kesepian.”
Polly tidak mendengar kata-kata Betsy. Dia tampak sibuk memilih kue-kue apa yang akan dimakannya terlebih dahulu. Yah..... dapur di rumah Betsy memang dipenuhi kue-kue lezat. Kau pun pasti bingung akan mulai makan kue apa. Ada kue apel panggang yang tampak lezat sekali, kue berlapis krim yang menggiurkan, kue jahe hangat, sosis panggang, dan masih banyak lagi ditambah es krim rasa strawberry dan susu dingin di kulkas.

”Ini baru menyenangkan!” cetus Polly, ”pantas kau kelihatan gemuk sekali, Betsy!”

Betsy tertawa, ”yah kalau soal makanan, tidak ada yang bisa melebihi makanan yang disiapkan oleh ibuku.”

”Ah...andai aku menjadi kamu yang Betsy, tentu enak sekali, tiap hari disuguhi makanan enak begini.”

”Tapi lama-lama kau pasti bosan,” ujar Betsy, ”aku lebih senang bila jadimu, sepulang sekolah, ada ibu yang menemanimu makan.”

”Tapi kau akan terus diomelin!” tukas Polly, ”kalau kau mau, kau boleh tinggal di sana.”

”Dan kau tinggal di rumahku?’ tanya Betsy, ”tentu saja aku mau!”

Hari ini hari pertama Polly dan Betsy bertukar tempat. Tadinya nyonya Berto, ibunya Polly dan nyonya Doti, ibu Betsy sangat kaget ketika mendengar keinginan anak-anak mereka.

”Biarkan saja kalau mereka maunya begitu, kita kasih saja kesempatan untuk mereka,” bisik nyonya Doti pada nyonya Berto.

Betapa senangnya Polly dan Betsy mendapat izin dari ibu-ibu mereka. Mereka membawa tas besar berisi pakaian masing-masing. Tentu saja karena tubuh Polly yang kurus pasti tampak aneh bila mengenakan baju Betsy yang lebar. Begitu juga dengan Betsy tak akan bisa mengenakan baju Polly yang pasti sempit di tubuhnya.

Polly senang sekali menikmati hari-harinya di rumah Betsy. Huaah...rasanya bebas sekali dari ibunya yang sering mengomel. Apa lagi makanan tersedia lengkap di lemari makan besar dan di lemari es.

”Bodoh sekali Betsy mau bertukar tempat denganku,” Polly menyeringai, ”lihatlah, tempat tidurnya pun besar dan empuk sekali.”

Sampai sore Polly sangat menikmatinya. Tapi ketika menjelang malam, tiba-tiba Polly merasa bosan.

”Ugh...jam berapa sih nyonya dan tuan Doti pulang?” gumam Polly. Rasanya tidak enak juga bila harus sendirian di rumah yang besar ini.

Sedari tadi dia telah melakukan berbagai hal sesukanya. Membaca buku cerita, nonton film dan menghabiskan banyak makanan sampai perutnya buncit.

Bagaimana dengan Betsy? Tadinya Betsy senang sekali di rumah Polly. Ada nyonya Berto yang menemaninya di meja makan.

”Asyik sekali ada teman bicara di rumah,” kata Betsy pada nyonya Berto.

”Tapi setelah ini kau harus tidur siang ya,” ujar nyonya Berto mengingatkan Betsy.

”Tapi apa aku boleh mendapat makanan lagi?” tanyanya.

”Tidak boleh, kau kan sudah kenyang.” kata nyonya Berto, ”kalau kau makan terus-menerus, perutmu akan sakit dan kau tak bisa tidur siang,”

”Tapi aku masih menginginkan kue lapis itu,” kata Betsy sambil menunjuk kue lapis di atas meja.

”Nanti setelah kau bangun dari tidur,” tegas nyonya Berto.

Ugh....Betsy jadi sedih. Kalau di rumahnya dia bisa memutuskan sendiri apa yang akan dilakukannya, tapi disini?

”Ah....aku kangen rumahku,” keluh Betsy di tempat tidur Polly yang sempit.

Polly pun merasakan hal yang sama. Rasanya asing sekali sendirian di rumah besar tanpa ibunya. Tiba-tiba Polly rindu pada ibunya.

”Walau ibu suka memarahi aku tapi ibu baik dan mau menemaniku ngobrol, aku kangen....” gumam Polly.

Polly memutuskan kembali kerumahnya. Dengan cepat dia memasukkan kembali pakaian-pakaiannya ke dalam tasnya dan segera keluar dari rumah Betsy. Di tengah perjalanan, Polly bertemu Betsy yang juga tengah menyandang tasnya.

”Aku tidak mau tinggal di rumahmu lagi, Betsy,” kata Polly, ”lebih menyenangkan di rumahku karena aku tidak akan kesepian.”

”Aku juga tidak suka tinggal di rumahmu, ibumu terus mengomeli aku kalau aku ingin makan dan menyuruhku tidur siang,” cetus Betsy, ”aku juga kangen makanan-makanan enak yang disiapkan ibu untukku.”

Polly dan Betsy lalu menuju rumah masing-masing. Nyonya Berto melihat kedatangan Polly dengan tersenyum senang.

”Ah...kau sudah pulang, Polly,” sambut nyonya Berto, ”cepatlah ganti bajumu ya, sebentar lagi makan malam.”

”Ibu, aku tak mau lagi di rumah Betsy,” ujar Polly pelan, ”paling enak di sini, walau ibu suka memarahiku tapi aku kangen sekali pada ibu.”

Nyonya Berto memeluk Polly, ”ah...kau ini, kalau ibu ngomel karena kau suka bandel,” tukas nyonya Berto sambil memencet hidung Polly yang lucu.

”Memang paling menyenangkan di rumah sendiri ya.” tegas Polly.

SERIAL POLLY (judul ke V)

RAMALAN UNTUK POLLY


Ada pasar malam di dekat rumah Polly. Bersama Lodi, Lovina dan Betsy, Polly menghabiskan sabtu sore di sana. Mereka naik komedi putar sampai tiga kali dan tak puas-puasnya main melempar gelang. Lihatlah, kantong-kantong yang mereka jinjing dipenuhi oleh barang-barang yang mereka menangkan dari permainan melempar gelang.

“Itu ada peramal,” ujar Lovina, “kita kesana yuk!”

Semua menyetujui usul Lovina dan mendekati seorang gadis muda dengan pakaian ala gypsinya.

“Halo adik-adik…ada yang mau saya lihat telapak tangannya?” tanya nona peramal ramah.

Polly dan teman-temannya mulai bergiliran menyodorkan telapak tangan masing-masing.

“Kau cantik dan pintar, rajinlah belajar, kau pasti selalu menjadi juara kelas,” ujar nona peramal membuat pipi Lovina bersemu merah jambut.

“Kau banyak sekali makan yang manis-manis, mmm…makannya dikontrol ya sebab tubuhmu akan gemuk dan kau menjadi malas,” kata nona peramal membuat Betsy meringis.

“Kau berani dan cerdas. Wah…kau ini akan menjadi saingan temanmu yang cantik itu ya,”ujar nona peramal pada Lodi.

Dan kini giliran Polly yang terlihat agak sungkan mengulurkan tangannya.

“Mmm…..sungguh mengerikan….kau tak akan naik kelas bila …”kata-kata nona peramal terhenti karena teriakan kaget Polly.

“Huh…aku tak percaya ramalan!” seru Polly lalu berlalu meninggalkan nona peramal dan teman-temannya yang melongo melihat tingkahnya.

Polly uring-uringan. Kata-kata peramal itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Uggh...sebenarnya Polly takut sekali apa lagi ujian kenaikan kelas akan berlangsung satu bulan lagi.

”Kau yakin dengan ramalan itu, Lody?”tanya Polly pada Lody. Sore itu mereka sedang duduk santai di bawah pohon jambu air di depan rumah Lody.

”Iya dong, mmm....aku harus belajar rajin,” ujar Lody,”kalau tidak Lovina pasti akan mengalahkanku!”

”Huh...aku sih tidak percaya,”dengus Polly,”akan kubuktikan kalau ramalan nona peramal itu tidak benar!”

”Kalau begitu, harus kau buktikan, Polly! tantang Lody,”soalnya, aku pun percaya dengan ramalan nona peramal itu tentangmu, hehe..”

Lody tertawa membuat Polly yang semakin jengkel memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Di rumahnya, Polly tetap kepikiran. Uggg...bagaimana kalau ramalan itu terbukti benar ya? Polly semakin uring-uringan.

”Akan kubuktikan kalau ramalan itu salah,”pikir Polly, ”aduh..tapi bagaimana caranya?”

”Kau harus belajar giat dari sekarang, Polly,” begitu kata Lovina di telepone.
Belajar? Hfff...Polly menggeleng malas. Ditatapnya buku-buku yang tersusun di meja belajarnya. ”Ahh...aku mulai mengerjakan PR Matematika ini saja,” kata Polly akhirnya.

”Waduh....PR ini susah sekali,” keluh Polly, ”kalau aku bertanya pada Lovina, mau tidak ya Lovina memberi tahu jawabannya?”

”Kamu ke rumahku saja, Polly, kita belajar sama-sama,” ujar Lovina ketika Polly meneleponnya.

Dengan ragu Polly berjalan ke rumah Lovina untuk belajar bersama, sesuatu yang sangat langka terjadi padanya.

Satu bulan berlalu dan ujian kenaikan kelas telah dilangsungkan. Hari pengumuman kenaikan kelas pun tiba. Jantung Polly berdebar kencang. Ramalan nona peramal terus saja menghantuinya.

”Polly...ini raportmu,”panggil pak Todry.

Polly melangkah dengan kaki gemetar. Diterimanya raport bersampul biru bertuliskan namanya dari Pak Todry dengan gelisah.

”Bagaimana nilai-nilaimu, Polly?”tanya Lovina.

Polly menggelengkan kepalanya dan memberikan raportnya pada Lovina. Lovina membuka raport Polly dengan cepat.

”Hei......kau naik kelas, Polly, nilaimu bagus!”seru Lovina.

Polly kaget. Dijulurnya kepalanya melihat raport miliknya yang sedang dipegang Lovina. Oh...mata Polly menangkap nilai-nilai yang cukup memuaskan tertuang di raportnya. Matematika tujuh, IPA tujuh,.....

”Ini raportku kan, Lovina?” tanya Polly tidak percaya.

”Ya iyalah, kau pikir raportku?” sahut Lovina geli, ”aku kan juara kelas, Polly, nilaiku lebih bagus dari ini koq, hehe..”

”Tapi...”Polly bingung,” uggh...sekarang aku bisa membuktikan kalau ramalan peramal itu salah!”

”Hehe....sebenarnya untung juga ya kau diramal seperti itu,”cetus Lovina,”kalau tidak kau tidak akan ketakutan dan terpacu untuk belajar. Tapi kan peramal itu benar juga, Polly.”

”Maksudmu?” tanya Polly.

”Peramal itu mengatakan kau kan tidak akan naik kelas bila kau tetap malas belajar. Kau sih....meninggalkan peramal itu sebelum dia menuntaskan kata-katanya.”

Polly manggut-manggut mengerti.

”Hehe....tapi sebenarnya, aku pun tak pernah percaya dengan ramalan. Ramalan itu hanya perkiraan saja dan tidak pasti, bukan?” ujar Lovina,”kita dong yang menentukan langkah kita sendiri bukan orang lain!”

Polly mengernyitkan dahinya,”upss...hampir saja ramalan itu terbukti kalau aku tidak merubah sikapku yang pemalas selama ini ya, Lovina.”

”ngomong-ngomong, ini kan raport terbaikmu kan Polly?”bisik Lovina,”biasanya banyak angka merah menghiasi raportmu...hehe...”

Lovina tertawa geli dan deraian tawanya mengalir pada Polly yang kini lega kalau dia telah membuktikan kalau ramalan padannya itu terbukti tidak benar dan ini tentu saja karena dia telah giat belajar selama ini!








Sunday, February 18, 2007

SERIAL POLLY (judul ke IV)

MUSIM DINGIN DI NEGERI PALIPOP

Musim dingin menyelimuti negeri Palipop. Anak-anak bersuka ria karena sebentar lagi salju akan turun. Mereka telah menyiapkan papan luncur yang telah beberapa lama tersimpan di gudang, kini bisa digunakan kembali. Hmm....meluncur dari bukit salju dengan papan peluncur sangat mengasyikkan. Tapi bagi Polly yang paling menyenangkan adalah meluncur di atas sungai kecil di depan rumahnya yang tak lama lagi akan membeku menjadi es yang berkilat.

Pagi ini sekolah Polly libur. Tapi bila biasanya Polly akan tetap bermalas-malasan di tempat tidurnya yang hangat, pagi ini dia langsung melompat turun dari tempat tidur. Buru-buru dia mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang lebih tebal, mengenakan sarung tangan dan kaos kaki wol, tutup kepala dan mantel hangat.

”Cuaca masih dingin sekali, Polly!” seru Nyonya Berto, ibu Polly dari dapur ketika dilihatnya Polly tampak mencari sepatunya yang tersimpan di belakang pintu dapur.

”Aku cuma ingin duduk-duduk di depan rumah saja, bu,” Polly berbohong. Tentu saja, kalau tidak, ibunya pasti akan marah dan mengurungnya di dalam rumah. Ugg.... bosan sekali!

”Tapi kau belum sarapan,” ujar nyonya Berto, ”makanlah dulu, ini ada sosis panggang.”

”Nanti saja bu, sebentar lagi,”seru Polly cepat lalu buru-buru keluar rumah sebelum ibunya bisa mencegahnya lagi.

Tapi di luar masih gelap dan sepi. Sepertinya anak-anak lebih memilih mengurung diri di dalam rumah mereka yang hangat daripada bermain di luar rumah.

”Dasar anak-anak pemalas,” gerutu Polly. Tadinya dia mengira, sahabat-sahabatnya, Lodi, Lovina dan Betsy sedang asyik bermain di luar.

Salju memang belum turun pagi ini tapi lihatlah rumput sudah membeku. Rasanya asyik sekali ketika menginjak rumput yang biasanya lembut dan tampak hangat tapi kini terdengar bunyi berderik.

”Kalau begitu, sungai kecil itu pasti sudah membeku, asyik sekali,” kata Polly senang.

Dengan semangat ia melangkahkan kakinya menuju sungai kecil yang memang tampak berkilap. Ditapakinya kakinya menyentuh sungai yang tampak membeku itu.

”Betulkan sudah menjadi es!” Polly berdesis, mulutnya tampak mengeluarkan asap putih. Itu adalah kepulan nafasnya yang sekarang tampak kedinginan.

”Asyik, aku bisa meluncur di es sekarang,” seru Polly senang.

Sungai kecil yang biasanya mengalir tenang kini tampak licin dan berkilat. Polly sudah melangkah sampai ke tengah sungai.

”Aku akan meluncur ke arah rumah Betsy,” gumam Polly, ”nanti kuajak dia ikut meluncur bersamaku.”

Rumah Betsy memang letaknya paling dekat dengan rumah Polly dibandingkan dengan rumah Lodi dan Lovina yang letaknya lebih jauh beberapa rumah.

Polly mulai meluncur dengan gembira. Kini dia sudah semakin jauh saja rasanya.

”Seandainya sungai ini membeku selamanya, tentu asyik sekali,” gumam Polly senang. Tiba-tiba....

”Oh....oh...”Polly kaget sekali ketika es yang ditapakinya pecah dan seolah mencair dan...

”Toloongggg........!” Polly menjerit takut. Dia terperosok ke dalam bagian sungai yang ternyata masih belum membeku. Polly berusaha naik ke atas tapi percuma, air dingin di kiri kanannya semakin melebar.

Tapi tak ada yang lewat, semua tampak sunyi.

”Oh...tolong...hiks.....”Polly mulai menangis. Badannya semakin terbenam dan menggigil, ”Tolooonggg.....”jerit Polly semakin pelan. Dari mulutnya tampak semakin banyak kepulan asap putih yang keluar.

”Astaga, kau kah itu Polly?” teriak satu suara. Polly mendongak mencari asal suara itu. Tampak di pinggir sungai, ayah Betsy menatapnya kaget.

”Tunggu disitu, jangan bergerak-gerak,” seru ayah Betsy cepat.

Polly menunggu dengan tubuh semakin lemah karena menggigil. Untunglah ayah Betsy cepat datang dan menarik tubuhnya dari benaman air es yang dingin dan membopongnya keluar dari sungai.

”Kau ini nakal sekali, Polly,” tegur ayah Betsy ketika dalam perjalanan mengantar Polly pulang ke rumahnya.

”Sungai itu akan membeku paling tidak masih tiga hari lagi. Seharusnya kau harus mengetes kekuatan es dulu dengan memukul tongkat keras-keras pada esnya. Tidak langsung meluncur seperti itu,” marah ayah Betsy, ”ah...andai aku tak melihatmu tadi...”

Polly cuma diam. Tubuhnya yang menggigil membuatnya tidak ingin apa-apa lagi kecuali minum susu hangat dan berselimut di tempat tidurnya yang hangat. Ketika sampai di rumah, nyonya Berto geram sekali mendengar cerita dari ayah Betsy.

”Terima kasih tuan Doti,” kata nyonya Berto pada ayah Betsy. Setelah ayah Betsy pulang, Polly tak henti-hentinya diomelin olehnya.

”Anak bandel, cepat ganti pakaianmu dengan baju tidur hangat,” perintah nyonya Berto, ”dan sebelumnya habiskan dulu segelas susu hangat ini.”

Lima hari ini, Polly terkena demam dan flu yang berat. Untunglah sekolah masih libur jadi dia tidak akan ketinggalan pelajaran. Tapi Polly tampak sedih sekali. Dengan memandang dari balik jendela kamarnya, Polly melihat tampak teman-temannya, Lodi, Lovina dan Betsy tampak asyik sekali meluncur di sungai yang telah benar-benar membeku.

”Daggh....Polly.......”seru Lodi yang kebetulan melihatnya.

Ugh....Polly cuma bis merengut. Bibirnya mengatup kesal.

”Seandainya aku lebih sabar, tentunya aku bisa main bersama mereka sekarang,” keluh Polly, ”hattssssyihhh....!”

Polly buru-buru menutup jendela kamarnya. Ugg....berdiri di depan jendela saja sudah pilek begini.

”Semoga pilekku ini cepat sembuh,” do’a Polly lalu berbaring di tempat tidurnya yang hangat.

SERIAL POLLY (judul ke III)

BERKUNJUNG KE KOTA PERMEN


Hari Minggu besok, Polly dan teman-teman sekelasnya mendapat undangan dari Bapak Walikota Kota permen. Wuih....menyenangkan sekali! Kota permen adalah tempat yang paling ingin dikunjungi oleh Polly dan teman-teman sekelasnya. Kau tahu kenapa? Tentu saja, karena kota permen terkenal dengan seribu jenis permen yang paling enak di seluruh dunia. Semua rasa pun tersedia, coklat, vanilla, strawberry, apel, lemon dan banyak lagi. Ah...kau pasti akan iri mendengar cerita mereka nanti.

Polly sendiri sudah tidak sabar menunggu hari Minggu. Apa lagi Tuan Berto, ayah Polly yang sudah pernah berkunjung ke kota permen menceritakan tentang kota seribu permen yang asyik itu.

”Bayangkan, kolam di sana dipenuhi oleh permen-permen yang enak,” ujar Tuan Berto.

”Asyik sekali, ayah!” seru Polly, ”aduh...kenapa sih hari Minggu ini begitu lama?”

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Polly dan sahabat-sahabatnya, Betsy, Lodi dan Lovina sudah berkumpul di sekolah. Di depan gerbang sekolah tampak bus besar berwarna kuning gading sudah menunggu. Bus itu yang akan membawa Polly dan teman-temannya ke kota permen.

”Silahkan masuk ke bus satu-persatu,” Pak Flafla, sopir bus menyuruh murid-murid masuk.

Sepanjang jalan, murid-murid bernyanyi gembira dipandu oleh Pak Tordry sehingga perjalanan selama dua jam tidak terasa melelahkan. Yah...kota permen letaknya lumayan jauh dari Negeri Palipop, negerinya para boneka kayu itu.

Akhirnya kota permen sudah tampak di ujung jalan yang sangat panjang ini. Polly dan teman-temannya mengintip dari balik jendela. Woowww.....lihatlah, pohon-pohon di pinggir jalan sudah berubah menjadi pohon-pohon dengan permen beraneka bentuk sebagai daun dan buahnya.

”Kita sudah sampai,” seru Pak Todry lalu memimpin murid-muridnya turun satu persatu bertemu dengan pak Walikota.

Wah...Pak Walikota yang bertubuh gemuk itu baik sekali. Polly dan teman-temannya diizinkan untuk mencicipi permen-permen yang tersebar di kota permen sesuka hati mereka.

”Tapi ingat, jangan banyak-banyak ya,” ujar pak Todry, ”kalian boleh keliling kota tapi ingat, jam tiga harus sudah kumpul di sini lagi.”

Polly, Betsy, Lodi dan Lovina segera menuju kolam permen yang memancurkan permen-permen lezat.

”Permen madu ini enak sekali,” ujar Lovina gembira, ”kalau kau Polly, permen apa yang paling enak menurutmu?”

Polly tidak bisa menjawab. Mulutnya penuh dengan permen.

”Polly, kalau makan permen satu persatu dong!” tegur Lodi, ”jangan makan sekaligus begitu!”

Polly Cuma mendengus mendengar teguran Lodi. Ketika Lodi dan Lovina berlalu darinya, tangannya meraup dua genggam permen dan langsung menyimpanya dalam saku celananya.

”Uggh....permen enak-enak begini kok makannya satu persatu sih?” ujar Polly pada Betsy, tapi terdengar seperti bergumam karena mulutnya tak henti-hentinya mengulum banyak permen. Tapi Betsy yang doyan makan cuma sibuk dengan dirinya sendiri. Sedari tadi dia terus memindahkan permen-permen dari kolam ke kantong-kantong celananya.

”Astaga, Betsy, pantas kau memakai celana aneh itu!” celetuk seorang anak ketika melintasinya, ”celanamu memiliki banyak kantong untuk menyimpan permen-permen itu hihihi.....”

Betsy ikutan cekikikan. Polly yang melihat celana Betsy jadi geram. Ugggg....coba dia memakai celana yang banyak kantong seperti Betsy, tentu lebih banyak permen yang bisa dibawanya pulang.

”Agh...tapi lebih asyik makan banyak permen disini, mumpung gratis,” kekeh Polly gembira.

Kota permen memang paling asyik. Anak-anak kota permen juga baik-baik sekali. Mengetahui kalau kota mereka sedang dikunjungi anak-anak dari negeri boneka kayu, mereka segera mengundang Polly dan teman-temannya untuk mampir ke rumah-rumah mereka yang bentuknya pun seperti permen-permen itu, menyajikan semua permen beraneka rasa dan menghadiahi mereka berkantong-kantong permen.

Akhirnya tibalah waktu Polly dan teman-temannya harus kembali ke negeri mereka. Berat rasanya tapi mereka puas dengan membawa berkantong-kantong permen dari teman-teman baru mereka, anak-anak kota permen dan bapak Walikota kota permen yang ramah.

Keesokan paginya, Polly bangun dengan malas. Tiba-tiba....

”Aduh.....”Polly mengaduh sambil memegang pipinya.

”Kenapa, Polly?” tanya nyonya Berto.

”Gigi-gigiku sakit,” rintih Polly menahan sakit. Gigi-giginya terasa berdenyut-denyut.

”Pasti kamu kemarin makan permen banyak-banyak ya?” tanya Nyonya Berto jengkel.

Polly menunduk sambil terus menahan sakit yang juga membuat kepalanya pusing. Teringat olehnya bagaimana dia rakus sekali, melahap banyak permen kemarin.

”Yah...sudah, kita ke dokter gigi,” ujar nyonya Berto, ”lekaslah berpakaian, kita pergi sekarang.”

Polly mau menangis rasanya sekarang. Padahal hari ini dia sudah tidak sabar bertemu dengan teman-teman sekelasnya untuk memperbincangkan soal kota permen yang mereka kunjungi kemarin. Tentu asyik sekali mengingat-ingat kenangan mereka di sana dengan mengulum permen beraneka rasa.

”Oh....coba aku tidak makan permen banyak-banyak kemarin,” keluh Polly. Matanya menangkap berkantong-kantong permen yang teronggok di atas meja belajarnya. Tapi sekarang permen itu sudah tidak membangkitkan selera lagi karena giginya yang terus senut-senut itu. Oh...Polly menyesal sekali!

SERIAL POLLY (judul ke II)

POLLY DAN MANTERA SIHIR

Wuih...Polly senang sekali. Dia diundang oleh Pipahito ke rumahnya. Pipahito adalah sepupu Polly yang tinggal di negeri penyihir. Lihatlah, rumah Pipahito begitu unik berbentuk kerucut seperti topi para penyihir. Pintu masuknya berupa lingkaran kecil sehingga Polly harus menunduk bila masuk ke rumah yang dinding dan lantainya dicat kotak-kotak hitam putih seperti papan catur. Pipahito pun mengajak Polly keliling negeri penyihir dengan mengendarai sapu terbang milik Pipahito.

”Tapi kita harus hati-hati di sini, karena kau bisa ditabrak oleh sapu-sapu terbang itu,” nasihat Pipahito ketika mereka melewati sapu-sapu terbang yang tengah berseliweran di udara

”Ada apa dengan sapu-sapu itu?” tanya Polly bingung.

”Sapu-sapu itu milik penghuni negeri ini yang sedang menguji kemampuan sapu terbang mereka. Biasanya itu milik penyihir baru,” jelas Pipahito.

Bukan itu saja yang membuat Polly kagum. Pipahito tampak mahir sekali membuat benda-benda terbang di udara, merubah seekor tikus menjadi sebatang pensil dan sebagainya.

”Ajarin aku mantera-mantera dong, Pipahito,” ujar Polly tertarik.

”Kau tidak bisa belajar dalam waktu dua hari, Polly,” kata Pipahito, ”tapi aku bisa mengajarimu satu mantra.”

”Iya..iya, aku mau, mantra apa itu?” seru Polly senang.

”mantra merubah benda menjadi apa pun yang kau inginkan,” kata Pipahito.
Polly bersorak gembira. Lihatlah betapa semangatnya Polly menyimak apa yang diajarkan oleh Pipahito.

”Abrakadabra...tralala...terilili....iniituiniitu...jadilah kodok,” seru Polly sambil menunjuk pada sepotong kue coklat di atas meja. Upss...Polly terloncat ke belakang ketika seekor kodok bewarna coklat melompatinya.

”Horee...aku bisa..”seru Polly gembira.

Polly pun jadi asyik menggunakan mantranya seharian ini. Pipahito geli melihat tingkahnya. Namun rupanya Polly pun bosan dan dia menginginkan mantra yang lain.

”Tidak bisa, Polly,” ujar Pipahito, ”belajar sihir tidak bisa hanya dalam waktu singkat seperti ini, kau harus sekolah dan itu membutuhkan waktu yang lama!”

Polly bersungut-sungut kecewa, ”huh....Pipahito pelit!” cetus Polly ketika Pipahito berlalu meninggalkannya karena mendengar suara ketukan di pintu depan.

Tiba-tiba mata Polly melihat buku kecil tergeletak di atas lemari pendek yang menempel di pojokan ruangan. Dengan berdebar-debar Polly membuka-buka buku itu.

”Huh...Pipahito bohong, ternyata dia belajar ilmu sihir dari buku ini!” seru Polly kesal,” nah....ini mantra yang diajarinya tadi!”

Polly membaca dengan cepat. Tiba-tiba terdengar langkah Pipahito menuju mendekati Polly. Secepat kilat Polly merobek dua lembar buku sihir itu dan meletakkannya pada posisinya semula.

”Hfff....pasti Pipahito tak akan tahu,” batin Polly, ”cuma dua lembar tak akan membuatnya curiga.”

”Polly, kita makan yuk, ”Pipahito telah berada di depan Polly,”ini ada kue bola isi kismis dari Nesya, temanku.”

Polly mengikuti Pipahito ke dapur dengan hati masih berdebar-debar, takut kalau Pipahito mengetahui perbuatannya barusan.
*************

Hari ini Polly pun harus pulang. Walax, burung rajawali milik Pipahito yang mengantarnya sampai ke halaman rumahnya. Ibunya, nyonya Berto dan teman-temannya, Lodi, Lovina dan Betsy telah menunggu di depan rumah.

”Polly, bagaimana kisahmu di sana?” tanya Lovina.

”Seru sekali!” ujar Polly dan ceritanya mengalir cepat membuat iri teman-temannya.

”Aku pun bisa menyihirmu menjadi kelinci,” kata Polly bangga.

”Ah..yang benar, Polly?” tanya Lodi tidak percaya, ”kau kan paling malas kalau belajar!”

Polly jengkel sekali. Diingat-ingatnya mantra yang telah dipelajarinya dari Pipahito. Uggg...tapi mantranya apa ya? Wah....ternyata Polly sudah lupa mantera yang diajari oleh Pipahito padanya kemarin. Sebentar...Polly ingat dengan dua lembar buku sihir yang dicurinya. Dirogohnya tangannya ke saku celananya. Ini dia!

”Wah.....mantranya kau baca ya, Polly?” ledek Lodi geli. Tapi Polly tidak menghiraukan ejekan Lodi dan cekikikan geli Lovina dan Betsy.

”Abrakadabra....abrakadabri....jadinyaakuginigitu...ini..itu...jadilah kodok!” Polly berkomat-kamit mengikuti petunjuk dari lembaran buku sihir.

Whussssss........tiba-tiba Polly menghilang dari pandangan.

”Polly, kau di mana?” seru Betsy.

Polly kaget. Dia merasakan sensasi aneh di tubuhnya. Di depannya tampak Lovina, Lodi dan Betsy kebingungan.

”Grook..grook......”seru Polly.

”Haaah....Polly...kau kah kodok hijau ini?”tanya Lovina kaget ketika. Bukan saja Lovina yang kaget, tapi dia lebih kaget ketika mendapati dirinya menjadi kodok. Oh...ini tak seperti yang diharapkannya.

”Tolong...aku...grook...tolong...groook...,”rintih Polly. Oh...rupanya Polly telah mencuri mantera yang ditujukan untuk si pembaca mantera itu sendiri.

”Tapi kau kan bisa membaca mantera untuk mengembalikan bentukmu seperti semula kan?”

Polly menangis,”aku tidak tahu manteranya.”

Lovina, Lodi dan Betsy merasa sangat kasihan pada Polly. Nyonya Berto yang mengetahui hal ini sangat marah dan segera menelepon Pipahito. Bukan main kesalnya Pipahito mengetahui hal ini. Apa lagi mengetahui kalau Polly telah mencuri dua lembar buku sihir miliknya.

”Baiklah aku memaafkannya kali ini,”ujar Pipahito, ”bibi, sekarang, bibi ucapkan mantera seperti ini.”

Pipahito mulai mengucapkan mantera dan diikuti oleh nyonya Berto. Whussss.....Polly pun berubah kembali menjadi dirinya lagi.

”Nah....sekarang kembalikan dua lembar buku yang kau sobek itu, Polly!” kecam nyonya Berto,” dan kirim surat pada Pipahito kalau kau menyesal dan minta maaf padanya!”

Polly mengangguk dan tertunduk malu.

”Hff...untung aku tidak menjadi kodok selamanya,” pikir Polly menyesal.



SERIAL POLLY (judul ke I)

POLLY SI BONEKA KAYU


Pagi itu di negeri Palipop, negerinya para boneka kayu, tampak cerah. Matahari menebarkan sinar hangatnya dan menyusup masuk melalui jendela-jendela rumah. Para Penduduk menyambut pagi dengan penuh semangat dan memulai kegiatan sehari-hari mereka. Anak-anak pun tak kalah riangnya, mandi pagi, sarapan dan bersiap-siap ke sekolah.


Namun dari sebuah rumah mungil berbentuk kue yang atap dan dinding luarnya berlumurkan cat berwarna putih dengan batu-batu merah yang menyerupai buah strawberry menghiasi atapnya, terdengar suara nyonya Berto sedang menggedor pintu kamar dengan keras. Raut mukanya terlihat kesal dan cemas.

"Polly, bangun, ini sudah pukul tujuh!" Nyonya Berto berteriak.

Polly, boneka kayu yang pemalas, keluar dari kamar. "Polly ngantuk bu, hari ini tidak usah sekolah ya," katanya sambil menguap.

"Tidak boleh, kamu harus sekolah! Betsy, Lodi, dan Lovina tadi menjemputmu, tapi mereka tidak mau menunggu kamu terlalu lama," ujar nyonya Berto gemas.

"Tapi Polly lupa mengerjakan PR matematika," rengek Polly. Kebayang olehnya, Pak Todry guru matematika akan menghukumnya berdiri di depan kelas sampai jam sekolah usai bila dia tidak menyerahkan PR matematika.

"Salah kamu sendiri, Polly. Kemarin sudah ibu ingatkan, makanya jangan main terus sampai malam. Ayo Mandi sana!" seru Nyonya Berto marah.

Polly mandi dengan malas. Mandinya asal kena air saja. Nyonya Berto terus mengawasinya. Baru lega ia setelah Polly keluar rumah, berangkat ke sekolah dengan berbekal dua potong roti keju karena tak sempat sarapan.

Di sekolah, Pak Todry membawa khabar yang menggembirakan. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Anak-anak, bapak mendapat surat dari kerajaan Palipop. Ratu Greta mengundang anak-anak yang pandai untuk berlibur ke istana dan berkunjung ke negeri boneka kain saat liburan sekolah tiba, " jelas Pak Todry.

Anak-anak saling pandang tak percaya. Mereka membayangkan istana Palipop yang katanya Pak Todry sangat indah. Bayangkan saja, pilar-pilar istananya dibikin seperti permen warna-warni, dan di samping istana terdapat taman bunga yang besar dan cantik. Ditambah lagi berlibur ke boneka kain yang penuh dengan aneka permainan anak-anak, hmm....sungguh mendebarkan.

"Tapi jangan senang dulu. Ini adalah undangan untuk anak-anak yang terpilih. Akan ada ujian untuk kalian," tambah Pak Todry, dan kelas pun riuh.

"Nanti kalau ujian, aku liat jawaban kamu ya," bisik Polly pada Betsy. "Nanti aku kasih coklat yang besar deh."

Betsy yang doyan makan itu mengangguk senang. Memberi contekan dengan mendapat balasan coklat sungguh menggiurkan. Tadi saja dia telah melahap dua potong roti keju, setelah Polly menyalin PR Matematika miliknya. Selama ini cuma dia yang mau memberi contekan pada Polly. Anak-anak yang lain sudah sepakat tidak akan memberi contekan pada Polly. Hanya Betsy, yang terus membantu Polly berbuat curang, dengan diam-diam, tentunya demi sepotong kue, sekantong permen atau sekotak coklat.

Beberapa hari berselang, ujian penentuan diadakan. Betsy, Lovina, Lodi, dan teman-teman sekelas Polly yang lain sudah belajar dengan giat.

"Semoga kita lulus semua ya," harap Lodi pada teman-temannya.

"Iya. Eh, Polly, kamu sudah belajar kan?" tanya Lovina.

"Tentu dong," sahut Polly, bibirnya menyungging senyum. Padahal dia tidak belajar sama sekali. Yang dia lakukan selama ini hanyalah merayu Tuan Berto, ayahnya, untuk membelikan satu kantong permen dan satu kotak besar coklat dari toko di negeri makanan untuk ditukarkannya dengan contekan dari Betsy. Diliriknya Betsy yang sedang mengulum permen di sebelahnya.

Pak Todry masuk kelas bersama seorang lelaki berpakaian putih dengan jubah hitam penuh manik-manik. Dia adalah Tuan Alfa, pengajar kerajaan. Soal-soal pun dibagikan. Anak-anak mengisi jawaban dengan tegang. Polly tak henti-hentinya menendang kaki Betsy yang duduk di depannya. Ketika waktu telah habis, Polly mengumpulkan lembar jawaban dengan tersenyum lega.

*********

Hari ini pengumuman hasil ujian. Anak-anak menunggu dengan harap-harap cemas. Hati kecil mereka yakin kalau mereka akan lulus karena mereka telah menjawab soal dengan sebaik-baiknya. Pak Todry mulai membacakan nama-nama yang lulus. Lovina, Lodi, dan anak-anak lainnya bersorak gembira ketika diumumkan lulus. Hampir seluruh anak lulus, kecuali dua anak yang menunggu dengan muka pucat.

"Kok nama saya tidak disebutkan Pak?" tanya Polly bingung.

"Kamu dan Betsy ikut saya ke ruang guru. Saya dan Pak Alfa curiga kalian bekerja sama atau salah satu dari kalian mencontoh jawaban yang satunya. Jawaban kalian benar-benar sama, dari kata-katanya sampai pada titik dan komanya. Tidak ada perbedaan satu pun!” kata Pak Todry.

Polly dan Betsy tertunduk lesu mengikuti Pak Todry di ruang guru. Di sana sudah ada Pak Alfa. Jantung mereka berdegup kencang ketika Pak Alfa mulai menanyai mereka. Akhirnya terbongkarlah rahasia Polly dan Betsy selama ini. Pak Todry dan Pak Alfa geleng-geleng kepala melihat ulah Polly dan Betsy.

Akhirnya liburan sekolah datang. Lovina, Lodi dan anak-anak yang lain begitu gembira. Mereka bertemu dengan ratu Greta yang cantik dan baik hati dan berkenalan dengan teman-teman dari negeri boneka kain.

Sayangnya Polly tidak bisa ikut karena harus mengikuti pelajaran dari Pak Alfa selama liburan sekolah. Betsy diizinkan berkunjung ke istana Palipop, tapi cuma satu hari, dan tidak bisa berkunjung ke negeri boneka kain, karena harus ikut sekolah bersama Polly. Polly dan Betsy sangat menyesal karena kesempatan emas mereka hilang.

SERIAL SASHI (judul ke V)


KETIKA IBU TAK DI RUMAH


“Hati-hati di rumah ya nak. Pulang sekolah langsung pulang dan jangan kemana-mana,” ibu berpesan pada Sashi.

“Ibu jadi pergi ya?” tanya Sashi. Peri kecil itu menatap ibu penuh harap semoga ibu tidak jadi pergi saja. Baru kali ini ibu meninggalkannya walau cuma sebentar karena besok sore ibu sudah pulang.

Ibu mengangguk dan mencium pipi Sashi yang bewarna kemerah-merahan. Tentu saja ibu harus pergi karena ibu telah berjanji akan datang ke rumah oma. Oma itu ibunya ibu. Dan seminggu yang lalu ibu menerima surat dari oma yang mengabarkan kalau oma akan mengadakan arisan keluarga dan oma membutuhkan bantuan ibu.

“Ibu telah menyiapkan banyak makanan di lemari dapur dan di lemari pendingin jadi Sashi tak akan kelaparan,” kata ibu mencoba menghiburnya.

Sashi mengangguk.

“Sekarang ibu pergi ya sayang, cup cup,” ibu menciumi Sashi lagi. Dengan lesu Sashi membalas lambaian tangan ibu. Sekarang saja dia sudah sendiri karena ayah mengantar ibu sampai di depan jalan. Karena rumah oma jauh dari rumah mereka, ibu tidak terbang seperti biasanya tapi menumpangi kereta kuda pak Greto tetangga mereka.

Sepi sekali tidak ada ibu di rumah. Biasanya ibu selalu sibuk di dapur dan Sashi suka sekali menunggui ibu membuat kue. Ibu memang hobi membuat berbagai makanan dan Sashi paling senang kebagian mencicipi masakan ibu. Tapi sekarang dapur sepi tanpa ibu. Kalau begini Sashi sudah kangen saja sama ibu.

“Sashi, kita main ke rumah Rose yuk,” tiba-tiba Felika, tetangganya dan juga teman sekelasnya sudah muncul di depan Sashi.

“Aku tidak boleh keluar rumah, ibuku sedang pergi,” ujar Sashi menyesali tidak bisa menemani Felika main.

“Ya sudah kita main di rumahmu saja ya,” kata Felika. Felika memang teman yang baik, dia mengerti kalau Sashi merasa kesepian.

Sashi senang ada Felika. Untuk sementara dia bisa melupakan rasa kangennya pada ibu.

Esok harinya sepulang dari sekolah segera setelah berganti pakaian, Sashi langsung menuju dapur. Perutnya terasa lapar. Biasanya ibu yang membukakan pintu untuknya dan langsung menyiapkan sup hangat dan puding buah kesukaan Sashi. Tapi hari ini Sashi harus menyiapkan makanan sendiri.

Sashi membuka lemari pendingin. Ada telur, puding coklat dan es buah. Kemudian dibukanya lemari dapur, berbagai roti dengan potongan besar-besar sungguh membangkitkan seleranya. Sashi mengambil sepotong roti kismis besar dan dua potong kue jahe, sebutir telur, semangkuk kecil puding coklat dan segelas es buah lalu siap menyantap makan siangnya. Ibu memang baik sekali telah menyiapkan semua makanan kesukaannya.

Perutnya sudah kenyang. Kalau ibu ada biasanya ibu langsung membereskan piring-piring dan gelas setelah habis ia pakai. Untunglah Sashi sering memperhatikan cara ibu mencuci piring dan gelas. Sekarang dia mencoba untuk melakukan apa yang selalu dilakukan ibu. Piring-piring dan gelas kotor dikumpulkan dalam satu baskom besar dan kemudian dibawa ke tempat pencucian piring. Ada sabun di dekat keran air. Dan Sashi mulai mencuci piring dan gelas dengan hati-hati. Yah harus hati-hati karena piring dan gelas terbuat dari kaca beling yang gampang sekali pecah. Setelah itu Sashi mengelap piring-piring dan gelas yang masih basah dengan lap kecil yang tergantung di dinding dan menyusunnya kembali di rak.

Sekarang beres. Uff….ternyata capek juga membersihkan piring dan gelas. Apa lagi ini pertama kali Sashi melakukannya. Tapi Sashi lega melihat hasil kerjanya. Senang juga rasanya melihat piring-piring dan gelas kembali mengkilap dan tersusun di rak.

Tiba-tiba terdengar pintu depan di ketuk. Rupanya Rose dan Felika yang datang.

“Sedang ngapain, Sashi? Tanganmu itu kenapa basah?” tanya Rose.

Dengan bangga Sashi bercerita pada teman-temannya kalau dia habis mencuci piring dan gelas. Felika dan Rose menatapnya kagum ketika Sashi mengajaknya melihat hasil kerjanya. Sashi lalu menawarkan mereka makan puding coklat dan minum es buah. Kedua temannya mengangguk senang. Mereka asyik sekali makan sambil ngobrol di dapur.

“Wah, lemari dapur di sini besar sekali ya, uuhh..kalau aku jadi kau pasti sudah aku jadikan tempat main petak umpet,” cetus Rose ketika melihat lemari besar tempat ibu menyimpat berbagai penganan di pojok dapur.

“Hihihi….aku juga suka sembunyi di sana sampai ibu bingung mencariku ke mana-mana,” Sashi bercerita, “tapi sekarang kau tak bisa main di sana karena banyak sekali roti yang ibu simpan di lemari itu.”

“Kecuali kalau kau sanggup menghabiskan semua makanan di sana,” canda Felika.

Rose dan Sashi tertawa.

“Sekarang giliran aku yang mencuci piring-piring ini ya,” kata Felika. Dikumpulkanya semua piring kotor untuk dicuci.

“Dan aku yang mengepel lantainya,” seru Rose.

“Terus aku yang membereskan meja makan,” Sashi tak mau kalah.

Ketiga peri kecil yang hari ini begitu manis-manis itu mulai mengerjakan tugas mereka dengan hati-hati. Tidak sulit memang dan mereka menyenanginya. Tidak lama kemudian, pekerjaan selesai dan lihatlah dapur terlihat bersih sekali.

“Asyik ya bersih-bersih,” komentar Rose. “Aku sering membantu ibuku mengepel lantai.”

“Aku tidak pernah,” Sashi mengaku, “ternyata banyak sekali pekerjaan ibu-ibu kita ya.”

“Benar,” sahut Felika. “Eh, Sashi, boleh tidak kalau kita membersihkan rumah kamu. Nanti kalau ibumu pulang, dia pasti senang melihat rumah sudah bersih kembali.”

Sashi dan Rose mengangguk setuju dengan usul Felika. Bertiga mereka lalu mencari sapu, kain pel dan ember berisi air yang bercampur obat pembersih untuk membilas kain pel. Ternyata membersihkan rumah itu menyenangkan juga apa lagi jika dilakukan dengan hati gembira dan bersenandung riang.

“Sudah beres…..”seru Rose. Telapak tangannya kotor tapi dia tak peduli.

“Sekarang kita yang harus dibersihkan,” ujar Sashi riang,” siapa yang mau mandi lebih dulu?’

Akhirnya mereka mandi bergiliran. Ketika waktunya pulang, Sashi mengucapkan terima kasih pada Rose dan Felika. Tapi Felika bilang, itulah gunanya teman, selalu ada waktu untuk saling membantu.

Tok..tok…suara pintu diketuk. Sashi menghambur menuju pintu depan. Dia tahu diluar ada ibu dan ayahnya karena sore tadi ayah bilang padanya akan menjemput ibu.

“Sashi…”terdengar ibu memanggil.

Sashi membuka pintu dan langsung memeluk ibu yang berdiri di depan pintu.

“Sashi kangen sama ibu,” Sashi kolokan.

Ibu menggandeng lengan Sashi dan masuk ke rumah. Mata ibu memandang sekeliling rumah dan betapa terkejutnya ibu melihat ruang tamu, kamar dan dapur tampak rapi dan bersih. Padahal ketika ibu pergi kemarin, ibu tidak sempat untuk merapikan isi rumah.

“Ayah?” tanya ibu pada ayah.

“Jangan tanya sama ayah dong….coba ibu tanya pada peri mungil kita yang cantik jelita,” ayah berseloroh dan mengerdipkan mata pada Sashi.

“Ohya?’ ibu menatap Sashi.

Sashi tertawa. Kali ini ibu pasti tak akan percaya akan ceritanya. Dengan bangga Sashi menceritakan apa yang telah ia, Felika dan Rose lakukan.

“Wah…ini peri kecil ibu yang hebat sekali. Terima kasih ya sayang, besok sampaikan salam dan terima kasih ibu untuk Felika dan Rose ya,” ujar ibu senang.

Sashi mengangguk dengan mata berbinar. Duh…senangnya bisa membantu ibu dan membuat hati ibu gembira.

Wednesday, February 14, 2007

SERIAL SASHI (judul ke IV)


SASHI BELAJAR TERBANG


Dari sepulang sekolah Sashi tampak gelisah. Sebentar-sebentar dia melirik jam dinding berbentuk jamur hutan yang tergantung di dinding ruang tamu.

“Ayah kan pulang jam empat,” Ibu yang baru selesai membuat kue apel panggang tertawa geli melihatnya.

Sashi menyandarkan tubuhnya dengan malas di kursi beludru warna merah hati yang menghadap ke pintu depan.

“Iya bu, tapi kok jarum jam lama sekali berputarnya ya,” keluh Sashi.

“Sudah tidak sabar ya?” goda ibu. Ibu tahu hari ini ayah berjanji pada Sashi akan mengajarinya terbang sepulang dari ayah kerja. Sashi memang telah memililki sayap. Sayapnya tumbuh tidak lama setelah ulang tahunnya ke tujuh.

“Terbang itu sulit ya bu?” tanya Sashi. Hatinya berdebar-debar membayangkan kalau sebentar lagi dia akan belajar terbang.

“Tentu tidak, sayang. Tapi kau harus sungguh-sungguh berusaha. Itu seperti halnya kau belajar membaca,” ibu meyakinkan Sashi. “Nah, sambil menunggu ayah, nikmati dulu kue apel panggang ini.”

Sashi menerima sepotong kue apel panggang dari ibu. Asyik memang menikmati kue yang sedap tapi tetap saja yang paling diinginkannya ayah pulang segera. Untunglah tak beberapa lama ayah pulang dan Sashi menyambut ayah dengan melonjak gembira.

Sashi terengah-engah mengikuti ayah menaiki bukit hijau tak jauh dari rumahnya. Udara sore yang berangin cukup membuat badannya lebih segar.

Ayah tahu kalau Sashi selalu tidak sabaran bila memulai sesuatu. Tapi kali ini ayah Ayah ingin mengajarkan dengan santai dan tidak terburu-buru.

“Sashi sudah mengerti semua yang ayah ajarkan?” tanya ayah sambil duduk di rumput.
Sashi mengangguk cepat, “tapi prakteknya dong, ayah?”

Ayah tertawa. “Baiklah, sekarang perhatikan cara ayah terbang ya.”

Sashi memperhatikan ayah dengan semangat. Dicobanya apa yang dipelajari dari ayah. Tapi uuh…ternyata terbang itu sulit sekali. Berkali-kali Sashi jatuh terduduk di rumput. Untunglah rumputnya tebal jadi tidak begitu sakit.

“Ah ayah, ternyata terbang itu sulit ya,” Sashi bersungut-sungut ketika mereka sedang dalam perjalanan kembali kerumah. “Lihat saja, Sashi jatuh melulu!”

“Itu karena Sashi baru belajar, nanti juga bisa,” ayah menghiburnya. “Ayah dulu juga begitu kok.”

Sashi memandang ayah “Artinya Sashi pasti bisa terbang?”

“Asal kau berusaha dan tetap semangat, nak!” kata ayah tegas.

Satu bulan sudah berlalu namun sampai hari ini Sashi belum juga bisa terbang. Setiap akan mencoba untuk terbang selalu saja dia jatuh. Lama-lama Sashi putus asa.

“Mungkin Sashi memang tidak akan pernah bisa terbang,” ujar Sashi sedih.

“Kau salah sayang, teruslah mencoba!” nasihat ibu.

Sashi diam saja. Ibu yang salah, pikirnya. Sashi sudah capek dan tak mau belajar lagi.

“Nak, seperti ibu bilang dulu, belajar terbang itu sama seperti kau belajar membaca. Harus sabar dan tidak boleh malas. Kalau kau rutin mencobanya kau pasti bisa,” kata ibu sebelum keluar rumah. Ibu akan ke rumah ibunya Felika, tetangga mereka siang ini.

Sendirian di rumah rasanya tidak enak. Sashi memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Di dekat rumah mereka ada sebuah taman bunga yang indah. Wangi segar tercium ketika Sashi melangkahkan kakinya memasuki taman yang dipagari dengan bunga-bunga beraneka rupa. Ada bunga mawar, melati, anggrek, bunga matahari dan banyak lagi. Dengan asyik Sashi berbaring di rumput dan memandang berkeliling taman.

Tiba-tiba matanya terantuk pada seekor anak burung gereja yang terjatuh dari dahan sebatang pohon. Sashi ingin menolongnya tapi hoho…ternyata anak burung gereja itu sedang belajar terbang. Dan kali ini dia bangkit dan mencoba terbang lagi. Sashi menahan nafas setiap anak burung gereja itu terjatuh. Tapi anak burung gereja itu sepertinya memang tidak kenal lelah, dia berusaha dan terus berusaha.

Melihat Sashi, anak burung gereja itu tersenyum padanya. Dan hup....berhasil! Anak burung gereja itu bisa terbang walaupun tidak terlalu tinggi dan kini dengan riang mengelilingi taman bunga dan menganggukkan kepalanya pada Sashi.
Senang rasanya melihat anak burung gereja itu berhasil. Tiba tiba Sashi teringat dirinya. Ah, kenapa aku tidak memiliki semangat seperti anak burung itu ya, pikirnya.

“Kalau aku berusaha pasti bisa,” bisik Sashi pada dirinya sendiri.

Dengan semangat Sashi pergi menuju bukit hijau. Dan….lihatlah kini bagaimana dia berusaha mencoba belajar terbang lagi. Satu..dua…Hop…Sashi terjatuh. Tapi kali ini dia tak putus asa. Coba lagi dan coba lagi sampai akhirnya Sashi bisa terbang. Walaupun masih terbang rendah tapi setidaknya dia tidak terjatuh lagi dan ini sungguh ajaib.

Rasanya tidak sabar memberi tahu kabar gembira ini dengan ayah dan ibu. Hampir saja Sashi menabrak ibu yang baru pulang dari rumah Felika.

“Ada apa sayang?” tanya ibu bingung.

“Ibu benar, kalau kita berusaha dan terus mencoba, kita pasti bisa!” seru Sashi.
“Maksud Sashi?” ibu tak mengerti.

Ibu senang sekali mendengarkan cerita Sashi tentang seekor anak burung gereja yang belajar terbang membuat semangat Sashi untuk mencoba belajar terbang timbul lagi.

“Begitulah sayang, tak ada yang tak bisa kalau kau berusaha. Seperti seorang anak yang baru belajar berjalan, atau saat kau belajar membaca, belajar naik sepeda, belajar berhitung dan belajar apa saja. Yang penting……” ibu menggantungkan kalimatnya dan tersenyum menggoda Sashi.

“Tetap semangat!” sahut Sashi. Yah… senang sekali rasanya bila punya semangat untuk mencoba dan belajar.

Serial Sashi (judul II )


SASHI MASUK SEKOLAH



Matahari pagi begitu ramah dan hangat. Sinarnya yang keemasan membelai wajah Sashi. Sashi sedang sarapan di meja makan yang menghadap ke jendela dapur. Dengan cepat dia makan kue coklat berlapis selai strawberry dan meneguk segelas besar susu hangat. Yah, hari ini Sashi masuk sekolah.

”Sashi, Felika sudah menunggu,” panggil ibu.

“Ya bu, Sashi sudah siap,” seru Sashi lalu menyambar tas punggung berwarna merah muda yang tergeletak di meja makan.

Di teras, Felika menungguinya dengan muka yang sama semangatnya seperti Sashi. Sashi segera pamit dengan ibu.

”Hati-hati ya,” seru ibu sambil melambaikan tangan.

Sashi berjalan dengan hati berdebar-debar. Sekolah mereka letaknya tidak jauh dari rumah dan tempatnya mengasyikkan. Sashi bilang ini mengasyikkan karena di belakang sekolah ada sebuah telaga yang jernih airnya. Sungguh menyenangkan. Kalau ada waktu luang, mereka bisa membawa bekal roti dan sirup untuk piknik di sana.

”Senang ya Sashi, kita bisa sekolah sama-sama. Julian dan Rose juga sekelas dengan kita,” kata Felika.

Sashi mengangguk setuju. Dia tahu kalau Julian dan Rose, teman-teman bermainnya pun akan menjadi teman sekelasnya di sekolah nanti.

”Nanti kita satu meja ya,” kata Felika ketika mereka hampir mendekati gerbang sekolah.

”Tentu. Pokoknya aku harus duduk dekat kamu atau Rose,” tegas Sashi.

Tapi rupanya ibu guru telah memilih teman satu meja masing-masing. Sashi duduk satu meja dengan Lia begitu juga Felika dan Rose, mereka mendapat teman baru satu meja. Lia anaknya lincah dan Sashi gembira berteman dengannya.

Ibu guru membagi-bagikan daftar pelajaran. Untuk hari ini mereka belum sepenuhnya belajar. Tapi besok ada pelajaran berhitung dan membaca. Sashi dan teman-temannya sudah tidak sabar menunggu hari esok. Mereka begitu semangat menerima pelajaran.

**********

Dua bulan sudah berlalu dan Sashi tidak begitu semangat lagi pergi ke sekolah. Rasanya malas sekali baginya untuk bangun pagi lalu mandi, sarapan dan berangkat sekolah.



”Kenapa Sashi harus sekolah, bu?” tanya Sashi pagi itu dengan bersungut-sungut.

”Karena kamu harus jadi anak pandai,” tegas ibu. Ditariknya selimut Sashi dan mau tak mau Sashi menurut ketika ibu mendorongnya masuk ke kamar mandi.

Dalam perjalanan ke sekolah, Sashi mendapat ide.

Hari ini kita piknik saja yuk di dekat telaga. Di sana kan banyak pohon apel jadi ibu guru tak kan melihat kita main di sana,” bujuk Sashi. ”Sekali-sekali tidak masuk sekolah asyik kan?”
”Maksud kamu, kita bolos?” tanya Felika. ”Aku tidak mau ah.”


Felika rupanya tidak setuju dengan ide Sashi tapi Rose tidak keberatan.

”Ya sudah, kalau ibu Helen menanyakan kami, bilang saja kami sakit,” kata Rose pada Felika. Felika mengangguk saja. Akhirnya berdua Rose, Sashi menghabiskan pagi ini untuk piknik di tepi telaga. Bekal roti dan susu hangat mereka letakkan di bawah pohon apel dan kemudian mereka asyik bermain dengan gembira.

Sashi mencelupkan kedua telapak kakinya ke air telaga yang dingin. Di sebelahnya, Rose berbaring di rumput yang tebal dan menengadahkan mukanya menghadap langit biru. Sinar matahari berusaha mengintipnya dari balik dedaunan pohon apel.

”Kita harus sering-sering pikinik di sini ya, Ros,” seru Sashi.

Rose mengangguk, dia sedang menikmati angin segar meniup kulit mukanya. Matanya jadi mengantuk. Dipejamkannya matanya. Sekali-kali nakal, tidak mengapa, pikir Rose tersenyum. Baru saja di hampir terlelap ketika dirasakannya ada sesuatu yang merayap di punggungnya. Makin lama semakin gatal dan perih, Rose terlonjak, bayangan semut hitam besar membuatnya panik.

”Aduh...tolong,” Rose melompat-lompat dan memburu ke arah Sashi minta pertolongan. Namun kakinya tergelincir dan tubuhnya jatuh menimpa Sashi yang masih duduk di tepi telaga. Sashi ikutan panik. Dia tak sempat menahan tubuhnya dari dorongan tubuh Rose. Mereka berdua jatuh tercebur ke telaga. Untung saja air di tepi tidak begitu dalam, tapi tingginya yang sebatas pinggang Sashi dan Rose cukup membuat baju seragam kedua peri kecil itu basah kuyup.

”Aduh... bagaimana ini?” Sashi cemas. Tidak mungkin kan mereka pulang dengan baju basah begini, apa lagi jam pulang sekolah masih dua jam lagi.

”Kita harus menunggu baju kita kering dulu,” Rose merasa bersalah,” maaf ya Sashi, karena aku kau harus kedinginan.”

. ”Sudahlah, akulah yang salah, ide ke sini kan dari aku,” ujar Sashi sambil menggigil dingin.

Rose dan Sashi lalu duduk bersandar di bawah batang pohon apel, menunggu baju mereka kering dan menentukan waktu yang tepat untuk pulang bersamaan dengan jam pulang sekolah.

Sudah dua hari ini Sashi tidak masuk sekolah. Sashi terkena flu dan badannya panas. Ibu jengkel sekali ketika Sashi mengakui kesalahannya. Ayah cuma geleng-geleng kepala saja melihat peri kecilnya yang memang terkadang bandel itu. Felika yang selalu mengunjungi Sashi setiap pulang sekolah membawa kabar kalau Rose pun sakit seperti dirinya.

Siang ini Sashi sedang menunggu Felika datang. Duh rasanya tak enak kalau sakit seperti ini. Tiba-tiba Sashi rindu sekolah. Kalau dia tidak sakit, kan dia bisa bertemu dan bermain dengan teman-temannya. Sekarang dia cuma bisa tiduran saja di tempat tidur dan harus menelan obat yang pahit.

Sashi mendengar pintu kamarnya terbuka dan ibu masuk membawa bingkisan.

”Sashi, ibu Felika bilang ke ibu katanya Felika tidak bisa ke sini. Sore ini Felika dan teman-temanmu serta ibu guru Helen akan piknik di tepi telaga dekat sekolahmu itu,” ibu memberi tahu Sashi.

Sashi membelalakkan matanya. Oh, mereka piknik tanpa dia. Terbayang olehnya Felika dan teman-temannya bermain gembira sambil makan biskuit dan minum sirup segar di tepi telaga.

”Tapi jangan sedih, ini ada bingkisan dari oma,” kata ibu.

Sashi membuka bingkisan itu dengan cepat. Lima buah buku cerita anak-anak dan satu kartu dari oma. Sashi meminta ibu membacakan pesan di kartu dari oma.

”Sashi lekas sehat ya. Sekarang Sashi sudah sekolah bukan? Tentu sudah pandai membaca. Semoga buku-buku ini bisa menghibur cucu oma yang pandai ini” ibu membaca keras-keras tulisan oma di kartu.

Sashi menunduk. Dia belum mahir membaca walaupun sebagian teman-teman sekelasnya sudah bisa mengeja dengan baik bahkan membaca dengan lancar. Oh, Sashi sudah mau menangis saja, sungguh dia menyesal telah malas belajar dan sekolah. Ibu meletakkan buku-buku dari nenek di meja di samping tempat tidur Sashi dan mengecup pipinya sebelum keluar kamar. Sashi meraih satu buku cerita, duh gambar-gambarnya saja indah apa lagi ceritanya ya, kata Sashi dalam hati.

”Ibu...”Sashi memanggil ibu.

Ibu masuk dengan tergopoh, ”kenapa sayang?” tanya ibu khawatir.

”Bu, besok Sashi sudah boleh masuk sekolah belum? Sashi mau belajar biar bisa membaca dan jadi anak pintar,” kata Sashi malu-malu.

Ibu tersenyum senang. ”Tentu kalau Sashi sudah merasa sehat, ”ibu menatap Sashi, ”tapi sepertinya Sashi sudah sehat ya.”

”Oh...tentu bu, Sashi sudah sehat,” kata Sashi cepat,” Ah alangkah senangnya masuk sekolah lagi!”

Sunday, January 28, 2007

SERIAL SASHI (judul ke I)




1.SASHI DI RUMAH BARU

Pagi-pagi sekali Sashi sudah bangun. Suara berisik dari balik pintu kamarnya yang membuatnya terjaga. Ini tidak seperti hari-hari kemarin. Biasanya Sashi bangun tidur kalau matahari sudah mengintip dan menebarkan sinar hangat ke kamarnya yang dipenuhi gambar bunga mawar merah jambu dan kupu-kupu beraneka warna. Peri mungil itu menggeliatkan tubuhnya sebentar sebelum meloncat turun dari tempat tidur kecil beralaskan kasur yang empuk.

Sashi keluar kamar dengan malas. Di ruang keluarga tampak ibu, ayah dan beberapa tetangga sibuk membawa barang-barang keluar rumah untuk dimasukkan dalam beberapa kotak besar.

”Tumben sudah bangun, Sashi?’ goda tante Melia, tetangga sebelah rumah Sashi.
Sashi diam saja. Mulutnya menekuk lucu. Tante Melia tersenyum melihatnya yang cemberut.

”Ibu, kita jadi pindah rumah ya?” tanya Sashi menghampiri ibunya.

”Iya, sayang. Sashi pasti senang di sana,” hibur ibu. Ibu tahu kalau Sashi merasa berat meninggalkan rumah mereka ini.

Sashi menggigit bibirnya. Rasanya dia ingin menangis. Tapi kalau dia menangis nanti ayah dan ibu jadi sedih. Sashi mengerti kalau mereka memang harus pindah dari rumah yang mereka tempati sekarang. Rumah ini mereka sewa dari tante Geby, teman ibu dan sekarang ayah sudah membeli rumah. Tapi ini berarti Sashi harus meninggalkan kamarnya yang hangat, kolam ikan di halaman belakang dan yang paling menyedihkan adalah mulai sekarang dia tidak bisa lagi bermain bersama Dea, Rosita dan Marsha, teman-teman bermain yang menyenangkan.

Berat rasanya memulai hari-hari pertama di rumah yang baru. Ibu dan ayah berusaha menghiburnya dengan mengajaknya berjalan-jalan di seputar rumah mereka. Tapi Sashi tidak mau. Dia belum bisa melupakan rasa kangennya dengan rumah mereka yang lama terlebih pada teman-temannya.

”Bantu ibu bikin puding jagung yuk,” ajak ibu. Ibu baru pulang dari memetik jagung yang tumbuh di kebun, tak jauh dari rumah mereka.

”Ibu, apakah kita harus tinggal di sini selamanya?” tanya Sashi sambil membuntuti langkah ibu ke dapur.

Ibu meletakkan kantong besar yang dibawanya ke meja dapur. Dipandanginya muka peri kecil di hadapannya yang tampak muram. Rambut keriwil-keriwilnya yang biasanya indah kini terlihat agak awut-awutan.

”Sashi tidak menyukai rumah kita ini ya?” tanya ibu.

Sashi memandang berkeliling. Sebenarnya dia menyukai rumah barunya ini. Rumah berbentuk buah strawberry ini sungguh indah tak kalah dengan rumahnya terdahulu yang berbentuk mawar merah. Sashi juga mendapatkan kamar yang hangat dengan jendela besar menghadap kolam ikan mungil yang dikelilingi dengan bermacam-macam bunga di tepi kolam. Apa lagi dapur di rumah barunya ini lebih besar dan lega. Di sudut dapur ada lemari besar tempat menyimpan berbagai penganan dan bisa menjadi tempat bermain petak umpet. Tapi bermain dengan siapa? Sashi merasa kesepian.

”Sashi kangen dengan rumah kita yang dulu,” Sashi terisak.

”Ini karena Sashi belum terbiasa, sayang.” hibur ibu.

”Ibu, kita harus pindah ke rumah yang dulu, Sashi nggak mau disini,” Sashi menangis dan menghambur masuk ke kamarnya meninggalkan ibu yang menjadi bingung melihat tingkahnya.

Sore ini langit cerah. Sashi melemparkan potongan roti ke kolam. Beberapa ikam mas berebut menangkap potongan roti berbentuk dadu dan menimbulkan suara kecipak. Sashi tertawa, tak urung hatinya sedikit gembira.

”Hai....kamu Sashi, bukan?” ada suara menyapanya.

Sashi menoleh ke suara yang memanggilnya itu. Tampak peri kecil berambut merah yang sepertinya sebaya dengannya menatapnya dengan malu-malu.

”Iya, kamu siapa?” tanya Sashi.

”Aku Felika, tetangga kamu. Tuh rumahku,” tunjuk Felika ke sebuah rumah tepat di sebelah rumahnya. ”Jendela kamarku persis menghadap jendela kamar kamu.”
”Eh, kamu kok tahu namaku?” tanya Sashi heran.

Felika berjalan ke arah Sashi dan duduk di sebelah Sashi. ”Ibu kamu yang cerita pada ibuku. Aku pengen kenalan sama kamu tapi kamu tak pernah keluar rumah. Baru hari ini aku lihat kamu,” jelas Felika.

Oh...Sashi manggut-manggut. Diperhatikannya teman barunya itu. Felika begitu ramah sehingga Sashi merasa langsung akrab dengannya.

”Eh, aku kenalin sama teman-teman yang lain yuk, tapi sebelumnya aku akan mengajak kamu jalan-jalan” ajak Felika.

Sashi setuju. Setelah pamit sama ibu, Sashi dan Felika keluar halaman dengan bergandengan tangan. Di sepanjang jalan, Sashi terkesima dengan pemandangan yang mereka lalui. Mereka melewati taman bunga yang indah, sebuah telaga yang airnya sangat bening tak jauh di belakang sebuah sekolah dasar dan kebun yang dipenuhi pohon jeruk.

”Sekarang kita menemui teman-temanku ya,” ajak Felika.

Sashi mengikuti langkah kecil Felika menuju sebuah rumah berhalaman luas yang tadi telah mereka lewati. Di halaman samping tampak empat orang anak sedang bermain kejar-kejaran. Ketika melihat Felika dan Sashi, mereka mengahmbur menghampiri.

”Teman-teman, ini Sashi, teman baru kita,” seru Felika.

Masing-masing mengenali diri. Sashi berusaha mengingat-ingat nama mereka. Ada Julian, Kania, Rose dan si kecil Dito.

”Kamu biasanya main apa, Sashi?” tanya Rose, ”atau hari ini kita mendengarkan cerita-cerita kamu aja ya.”

Teman-teman barunya yang lain mengangguk antusias. Sashi tertawa, senang memang memiliki teman-teman baru yang ramah. Sampai sore mereka bermain bersama. Sungguh menyenangkan.

”Besok kita main lagi ya, di rumahmu saja. Boleh tidak?” tanya Julian ketika mereka akan berpisah pulang ke rumah masing-masing.

Sashi mengangguk setuju. Setengah berlari dia menuju rumahnya. Rasanya ingin cepat-cepat menceritakan pengalaman barunya pada ibu. Segera setelah sampai ke rumah, Sashi mencari ibunya. Rupanya ibu sedang di dapur bersama ayah.

”Nah ini dia,” kata ayah ketika Sashi muncul dengan pipi bersemu merah. ”ayah dan ibu punya kabar gembira untuk Sashi.”

Sashi memandang ayah heran.

”Kabar apa ayah?” tanya Sashi cepat.

”Ayah dan ibu mengerti kalau Sashi tidak kerasan tinggal di sini. Jadi ayah memutuskan akan kita mencoba berunding dengan tante Geby untuk membeli rumah miliknya itu jadi kita bisa pindah ke rumah yang lama lagi,” jelas ayah.

Sashi terkejut. Tiba-tiba dia merasa malu sekali sama ayah dan ibu. Lihatlah, betapa selama ini dia telah membuat ayah dan ibu susah.

”Ayah, ibu, Sashi minta maaf. Sashi tidak mau kita kembali ke rumah yang lama. Sashi senang tinggal di sini, ” kata Sashi cepat dan kemudian ceritanya mengalir dengan penuh semangat tentang pengalamannya barusan.

Ayah dan ibu berpandangan geli.

”Benar kan ibu bilang, Sashi harus mau menerima hal-hal baru, pindah rumah tidak seburuk yang kamu kira, bukan?” goda ibu membuat Sashi tertawa kecil
”Sashi yakin tidak berubah pikiran?” tanya ayah.

Sashi menggeleng cepat-cepat. Dia ingin tetap tinggal di sini. Sungguh menyesal dia telah melewatkan beberapa hari dengan hanya bersedih hati padahal di rumahnya ini dia mendapatkan berbagai hal menarik, rumah yang indah dan teman baru yang menyenangkan. Tapi belum terlambat, bukankah masih ada hari esok dan Sashi tidak sabar menunggu pagi menjelang.

Serial SASHI ( judul ke III)

(Majalah Bravo Ed. I/Februari 2007)

(cerita ini yg pertama kali dibuat n sebagai awal dari serial Sashi pada mulanya)

SAYAP SASHI

Hari ini Sashi, peri kecil yang cantik ulang tahun.

”Selamat ulang tahun sayang, sekarang Sashi sudah tujuh tahun, tidak boleh nakal dan cengeng lagi ya,” kata Ayah seraya mencium pipi Sashi.

”Dan tidak boleh suka ngambek,” Ibu menggoda dan gantian mencium pipi nya.

” Terus kado buat Sashi mana?” tanya Sashi.

”Nanti pulang sekolah baru ibu berikan, sekarang sarapan dulu ya, ada sup bunga kesukaan Sashi,” ujar ibu lalu menata meja makan.

”Ayah akan belikan Sashi buku ”Belajar Terbang” dan nanti akan ayah ajarkan Sashi agar bisa terbang,” tambah Ayah.

”Benarkah ayah?” Tanyanya tak percaya. ”Tapi sayap Sashi belum tumbuh, bagaimana bisa terbang?”

”Peri seperti kita ini nak, sayapnya akan tumbuh setelah berumur tujuh tahun. Tapi tidak semua anak bisa cepat mendapatkan sayapnya. Ada yang baru bertahun-tahun sayap nya baru tumbuh. Semua tergantung diri kita sendiri,” Ayah menjelaskan.

Sashi teringat teman-teman di kelas nya. Ada beberapa teman yang telah memiliki sayap namun ada juga yang belum punya sayap padahal ulang tahun ke tujuh mereka sudah lama lewat.

”Maksud Ayah?” Sashi tidak mengerti.

”Sayap kamu akan tumbuh setelah kamu melakukan tiga kebaikan dengan tulus. Itu syarat yang harus kamu penuhi. ” jelas Ayah. ”Nah, mulailah melakukan hal baik tanpa minta imbalan ya”

”Dan sekarang makan dulu sup nya, nanti dingin” Ibu memotong pembicaraan.

Sashi lalu duduk di samping ayahnya dan mulai menyantap sup dengan memikirkan tiga kebaikan apa yang akan dilakukannya.

Satu minggu berlalu namun sayap di tubuh Sashi belum tumbuh juga. Padahal selama ini dia telah melakukan berbagai hal baik seperti membantu Fia teman sekelasnya mengerjakan PR Matematika, membagi kue nya pada Lia, menyumbangkan pakaian-pakaian nya yang masih bagus untuk teman-teman nya yang orang tuanya kurang mampu dan masih banyak lagi yang dia lakukan, tapi semuanya ternyata tidak memenuhi syarat.

”Kok sayap Sashi belum juga tumbuh ya bu, padahal banyak kebaikan yang telah Sashi lakukan,” Sashi mengeluh.

”Kebaikan itu tidak boleh dihitung-hitung nak. Mungkin kau tidak tulus dan mengharap imbalan ketika melakukan hal baik itu,” ujar ibu seraya mengelus rambut Sashi dengan sayang.

Sashi diam. Terbayang oleh nya dia memang selalu berharap sayap nya tumbuh sebagai imbalan perbuatan baiknya.

”Oh ya, buku dari Ayah tentang Belajar Terbang belum Sashi baca?” tanya ibu.

”Ih. ibu, sayap saja belum tumbuh, malas ah,” cetus Sashi manyun.

Ibu tertawa dan geleng-geleng kepala melihat Sashi yang tampak sewot.

Sashi sedang tiduran di kamar ketika di dengar nya suara ibu memanggil.

”Ibu kenapa?” tanya Sashi. Muka ibu memang tampak pucat.

”Ibu pusing nak, tolong belikan ibu obat ya ke toko obat Pak Dimo,” pinta ibu sambil memberikan uang pada Sashi.

”Tapi ibu belum makan dari tadi. Sashi ambilkan dulu ya,” ujar Sashi. Bergegas dia ke dapur, dan menyiapkan sup untuk ibu nya.

”Ibu makan dulu ya sementara Sashi beli obat.” Sashi lalu bergegas keluar rumah.

”Mau ke mana Sashi?” Nek Rimbi, wanita tua yang tinggal di depan rumahnya menyapa Sashi yang sedang berjalan cepat-cepat.

”Beli obat untuk ibu di Toko Pak Dimo, nek,” jawab Sashi.

”Kamu bisa sekalian menyampaikan pesan ke Todi, anak yang tinggal di ujung jalan sana nak?” tanya nek Rimbi. ”Katakan padanya untuk menyiram bunga-bunga di pekarangan nenek. Lihatlah nak, bunga-bunganya sudah kehausan,”

Sashi mengamati pekarangan nek Rimbi. Bunga-bunga tampak hampir layu.

”Nek, biar Sashi saja yang menyiramnya. Pulang dari beli obat untuk ibu Sashi akan ke rumah nenek,” tawar Sashi cepat. ” Tapi sekarang Sashi ke toko obat dulu ya nek, takut ibu menunggu lama.”

Nek Rimbi mengangguk senang. Sashi berjalan cepat menuju toko Pak Dimo. Di sana dia bertemu Lia yang tampak kebingungan.

”Kamu kenapa?” tanya Sashi ikutan bingung.

”Adikku sakit, aku mau membeli obat, tapi uangku hilang di jalan,” Lia berkata dengan suara yang terdengar sedih.

”Ya sudah aku belikan ya sekalian,” hibur Sahi.

”Tapi itu uang ibu mu Sashi,” Lia menolak.

”Tidak apa-apa, nanti akan Sashi ganti dengan uang tabungan Sashi kok,” kata Sashi cepat dan setelah mendapatkan obat untuk ibu dan adik Lia, Sashi berlari pulang. ”Ibu ini obat nya.” Sashi mendekati ibu dan memberikan obat.

”Terima kasih sayang,” ujar ibu senang. ” Hei coba lihat di punggungmu nak! ”

Sashi cepat membelakangi cermin dan betapa terkejutnya ia ketika melihat pantulan sayap yang indah terpasang di punggungnya.

”Ibu, Sashi punya sayap,” seru Sashi gembira. ”Apa karena tadi Sashi berjanji akan menolong nek Rimbi untuk menyiram bunga dan membelikan obat untuk adik nya Lia? Tapi satu nya apa lagi ya?”

”Menolong ibu membelikan obat dan hmm...bukankah kamu yang menyiapkan sup untuk ibu?” Ibu tertawa. ”Tapi sayang, ibu buka rahasia ya, sebenarnya tanpa melakukan tiga kebaikan pun pada waktunya bila tubuhmu telah siap untuk mempunyai sayap, dia akan tumbuh dengan sendirinya. Ayah cuma menggoda mu saja. Kamu sih malas membaca buku yang dibelikan ayah, padahal di buku itu dijelaskan proses memiliki sayap dan cara untuk terbang.”

”Yah...ayah dan ibu curang!” Sashi kaget tapi menyesali kemalasannya. ”Ya deh Sashi tidak akan malas membaca buku lagi bu.”

”Kamu menyesal telah melakukan hal yang baik? ” goda ibu.

”Sashi senang melakukan hal baik dengan tulus, menolong orang tanpa minta imbalan,” Kata Sashi tegas. Sungguh dia merasa keharuan ketika melihat raut muka lega Lia dan senyum gembira nek Rimbi karena pertolongannya.

Sashi memeluk Ibu nya. Ah...kado ulang tahun dari ayah dan ibu tahun ini sungguh indah, pelajaran berharga yang tak akan dia lupakan.